Senin, 21 Mei 2012

PENGERTIAN, TUJUAN, DAN PERKEMBANGAN TAREKAT

PENGERTIAN, TUJUAN, DAN PERKEMBANGAN TAREKAT

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Tugas Individu Pada Mata Kuliah
Akhlak Tasawuf Fakultas Tarbiyah & Adab
Jurusan PAI – A Semester 2



                                        



Diajuakan Oleh:
Muhamad Salihin


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI ( IAIN )
“SULTAN MAULANA HASANUDIN”
 SERANG - BANTEN 2012






0
DAFTAR ISI

DAFTAR ISI................................................................................................i
BAB I. PENDAHULUAN.........................................................................
A.  Latar Belakang Masalah...........................................................
B.  Rumusan Masalah....................................................................
C.  Tujuan Penulisan Makalah......................................................
BAB II. PEMBAHASAN........................................................................
A.    Pengertian.............................................................................
B.     Hubungan Tariqat Dengan Tasawuf....................................
C.     Sejarah Timbulnya Tariqat...................................................
D.    Aliran-aliran Tariqat Dalam Islam........................................
E.     Istilah Tariqat.........................................................................
BAB III. PENUTUP.................................................................................
A.    Kesimpulan...........................................................................
B.     Saran.....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang Masalah
Tarikat ( bahasa Arab ) طريقة jamak dari kata طرق yang berarti “jalan” atau metode, dan mengacu pada aliran keagamaan tasawuf atau sufisme dalam Islam. Ia secara konseptual terkait dengan haqiqah atau “kebenaran sejati”, yaitu cita-cita ideal yang ingin dicapai oleh para pelaku aliran tersebut. Seorang penganut ilmu agama akan memulai pendekatannya dengan mempelajari hukum Islam, yaitu praktik eksoteris atau diniawi Islam. Dan kemudian berlanjut pada jalan pendekatan mistis keagamaan yang berbentuk tariqah, melalui praktik spritual dan bimbingan seorang pemimpin tarekat, calon penghayat tarekat akan berupaya untuk mencapai haqiqah ( hakikat, atau kebenaran hakiki ).
Bila ditinjau dari sisi lain, tarikat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan ( persaudaraan ), dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah.

B.  Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan tarekat dan hubungan tarekat dengan tasawuf?
2.      Bagaimana sejarah timbulnya tarekat?
3.      Apa aliran-aliran tarekat dalam Islam dan istilah tarekat itu?

C.  Tujuan Penulisan Makalah
1.      Memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah Fiqih Fakultas Tarbiyah dan Adab IAIN “SMH”  Banten Tahun Akademik 2010/2011.
2.      Mengetahui pengertian tarekat, dan hubungan tarekat dengan tasawuf.
3.      Mengetahui aliran-aliran tarekat dalam Islam, dan istilah tarekat.


BAB II
PEMBAHASAN

A.  Pengertian Tarekat
Asal kata “tarekat” dalam bahsa Arab ialah “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.[1] Tarekat adalah jalan yanng ditempuh para sufi dan dapat digambarkan sebagai jalan yang berpangkal dari syariat, sebab jalan utama disebut syar’, sedangkan anak jalan disebut thariq. Kata turunan ini menunjukan bahwa menurut anggapan para sufi, pendidikan mistik merupakan cabang dari jalan utama yang terdiri dari hukum Ilahi, tempat berpijak bagi setiap muslim.[2]
Tak mungkin ada anak jalan tanpa ada jalan utama tempat berpangkal. Pengalaman mistik tak mungkin didapat bila perintah syariat yang mengikat itu tidak ditaati terlebih dahulu dengan seksama.[3]
Menurut Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:
 ا لطر يقة هي ا لعمل با الشر يعة و ا لاخذ بعزا ئعها و ا لبعد عن ا لتسا هل
 فيما لا ينبغي ا لتسا هل فيه
Artinya:
“Tariqat adalah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah ( dengan tekun ) dan menjauhkan ( diri ) dari ( sikap ) mempermudah ( ibadah ), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah”[4]

اا لطر يقة هي ا جتنا ب ا لمنهيا ت ظا هرا و با طنا وا متثا ل ا لا وا مر ا لا لهية
 بقد ر ا لطا قة
Artinya:
“Tariqat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan sesuai dengan kesanggupannya, baik larangan yang nyata maupun yang  tidak
( batin ).”                                                  
 ا لطر يقة هي ا جتنا ب   ا محر ما ت و ا لمكرو ها ت و فضو ل ا لمبا حا ت
 و ا دا ء ا لفرا ئض فما ا ستطا ع من ا لنوا فل تحت ر عا ية عا ر ف من ا هل ا لنها ية
Artinya:
“Tariqat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan hal-hal mubah ( yang sifatnya mengandung ) fadilah, menunaikan hal-hal yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan
( pelaksanaan ) di bawah bimbingan seorang arif ( Syekh ) dan ( Sufi ) yang mencita-citakan suatu tujuan.”[5]

B.  Hubungan Tariqat Dengan Tasawuf
Dalam ilmu tasawuf istilah tarikat tidak saja ditunjukan kepada aturan dan cara-cara tertentu yang ditunjukan oleh seorang syaih tariqat dan bukan pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syaih tariqat , tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada di dalam agama islam, seperti halnya shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya. Ajaran tersebut merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.[6]

Di dalam tariqat yang sudah melembaga, tariqat mencakup semua aspek ajaran islam seperti shalat, puasa, zakat, jihad, haji, dan sebagainya, telah diketahui  bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha unuk mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Dan ajaran-ajaran tasawuf yang harus ditempuh untuk mendekatkan diri kepada Allah merupakan hakikat tariqat yang sebenarnya, dengan demikian bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tariqat adalah cara atau jalan yang ditempuh seorang dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah.
C.  Sejarah Timbulnya Tariqat
Ditinjau dari segi historisnya, kapan dan tariqat mana yang mula-mula timbul sebagai suatu lembaga, sulit diketahui  dengan pasti , namun De. Kamil Musthafa Asy-syibi dalam tasisnya mengungkapkan tokoh pertama yang memperkenalkan sistem tariqat syaih Abdul Qasiir al-Zailani ( 561 M-1166 H ) di Bagdag, Sayyid Ahmad Ar-Rifa’i di mesir denagan tariqat Rifa’iyyaah, dan Jalal ad-din ar-rumi (672 H-1273 M) di Parsi.[7]
Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali memenghalalkan tasawuf yang sebelumnya yang dikatakan sesat, tasawuf berkembang didunia islam, melalui tarikat. Tariqat adalah organisasi dari pengikut-pengikut sufyn besar, yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya, tariqat memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat, ini merupakan tempat murid-murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya.[8]
Pada awal kemunculannya, tariqat berkembang dari dua daerah yaitu, Khusaran ( Iran ) dan Mesopotamia ( Irak ) pada periode  ini mulai timbul beberapa diantara tariqat Yasafiyah yang didirikan oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani. [9]
( 9617 H.1220 M ) tariqat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhamad Badauddin an-Naqsabandi al-Awisi al-Bukhari ( 1389 M ) di Turkistan, tariqat Khalwatiyah yang didirikan oleh  Umar al-Khalwati (1397 M ).[10]
D.  Aliran-aliran Tariqat Dalam Islam
1.      Tariqat Qadiriyah, yang didirikan oleh Muhy Ad-Din abd al-Qadir al-Jailani ( 471 h/1078 M )
2.      Tariqat Syadziliyah yang dinisbatkan kepada Nur Ad-Din Ahmad Asy-Syadzili ( 593- 656 H/ 1196-1258 M )
3.      Tariqat Naqsabandiyah yang didirikan oleh Muhammad Baharuddin an-Naqsabandi al-Asisial-Bukhari (1389 M ) di Turkistan.
4.      Tariqat Yasafiyah dan Khawajaqawiyah, tariqat Yasafiah didirikan oleh Ahmad al-Yasafi ( 562 H/1169 M ) sedangkan Khawajaqawiyah didirikan oleh Abd al-Khaliq al-Ghuzdawani ( 617 H/1220 M )
5.      Tariqat Khalwatiyah  yang didirikan oleh al-Khalwati ( 1397 M )
6.      Tariqat Syatariyah yang didirikan oleh Abdullah bin Syatar ( 1485 ) di India
7.      Tariqat Rifa’iyah yang didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’i
 ( 1106-1182 )
8.      Tariqat Qadiriyah Wa Naqsabandiyah yang didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan mengajar di Mekah pada pertengahan  abad ke-19
9.      Tariqat Summaniyah yang didirkan oleh Muhammad bin Abd al-Karim al-Madani Asy-Syafi’i as-Samman ( 1130-1189/1718-1775 )
10.  Tariqat Tijaniah yang didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhamad at-Tijani ( 11501230 H/1737-1815 M )[11]



11.  Tariqat Chistiyah yang didirikan oleh Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan
12.  Tariqat Mawlawiyah, yang didirikan oleh Syekh al-Kabir Gelminski
13.  Tariqat Ni’matullah yang didirikan oleh Syaih Ni’matullah
14.  Tariqat Sanusiyah yang didirikan oleh Sayyid  Muhammad bin Ali as-Sanusi.[12]
E.  Istilah Tariqat
 Ada beberapa istilah tariqat antara lain:
a)      Syariat
Kata “syariat” yang berarti peraturan atau perjalanan, para ahli berpendapat berupa amalan-amalan lahir, semisal shalat, puasa, dan lain-lain.
b)      Hakikat
Kata “hakikat” yang berarti puncak atau kesudahan sesuatu atau asal sesuatu. Namun didalam istilah tarikat berarti sebagai kebalikan syariat yakni yang menyangkut batin.
c)      Ma’rifat
“Ma’rifat” berarti pengetahuan atau pengalaman. Menurut istilah Ma’rifat adalah pengetahuan dalam mengerjakan syariat dan hakikat.
d)     Tarikat
Kata “tarikat” berarti jalan. Menurut istilah, tarekat ialah jalan atau cara yang ditempuh menuju keridaan Allah.
e)      Suluk
Kata “suluk” berarti menempuh perjalanan. Dalam tasawuf suluk adalah ikhtiar ( usaha ) dalam menempuh jalan untuk mencapai tujuan tarekat. Orang yang menjalankan ikhtiar tersebut dinamakan Salik.[13]



f)       Manazil
Artinya tempat-tempat perhatian yang dilalui salik yang melaksanakan suluk:
Ø  Masyahid
Ialah hal-hal yang terlihat pada perjalanan di tengah sedang menjalankan suluk.
Ø  Maqamat
Ialah derajat-derajat yang dipoeroleh dengan usaha sendiri.
Ø  Kasbiyah
Ialah derajat-derajat yang diperoleh semata-mata dengan anugerah Allah yang disebut “al-ahwal” atau “mauhibiyah”
g)      Zawiyah
Zawiyah adalah merupakan suatu ruang tempat mendidik calon-calon sufi.
h)      Illa Zikr Nafi Isbat
Kalimat “La ilaha illallah” mengandung dua kata peri-ada-an. Pertama kata “La” dan kedua kata “Illa”. Dan dua kata pula yang menetapkan yaitu “Ilaha” dan “Allah”.
Dalam hal tersebut di atas ahli tarekat memberi tiga tingkatan pengertian, yaitu:
Ø  Tiada Tuhan melainkan Allah
Ø  Tiada ma’bud melainkan Allah
Ø  Tiada maujud melainkan Allah
i)        As-Sukr
As-Sukr maksudnya sebagai salah satu sikap dalam ibadah dan khalwat. Sehingga orang itu tidak sadar lagi akan dirinya.
Ø  Al-Fana
Maksudnya ialah lupa segala sesuatu ketika beribadah kecuali yang disembahnya.[14]

j)        Uslah
Uslah adalah salah satu prektek suluk dengan mengasingkan diri dari khalayak ramai yang berbuat maksiat.
Ø Khalwat
Khalwat sebagai satu rangkaian dalam suluk dengan jalan menyendiri di tempat yang sunyi atau bertapa.
k)      Kasyaf
Artinya terbukanya dinding antara hamba dengan Tuhan dalam tarekat. Empat dinding pembatas antara Khalik dengan makhluk menurut ahli tarekat yaitu:
Ø  Najis dan hadas
Ø  Haram dan makruh
Ø  Akhlak dan tercela
Ø  Kelalaian terhadap Tuhan karena dunia
l)        Silsilah
Artinya nisbah ( hubungan ) guru-guru tarekat yang sambung bersambung dari bawah ke atas yang perlu diketahui oleh pengikut-pengikut tarekat.
Ø  Khirkah
Ialah semacam ijazah yang diberikan kepada murid setelah mencapai suatu tahap dalam pengethuan.
m)    Wali
Wali adalah seseorang yang telah mencapat tingkat kesucian yang tinggi setelah melalui suluk. Dia mempunyai kelebihan-kelebihan tertentu sebagai bukti-bukti dari kewaliannya.
Ø Keramat
Adapun yang dimaksud dengan keramat adalah keistimewaan yang dimiliki seorang wali tersebut.[15]



BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Tariqat adalah pengamalan syariat, melaksanakan beban ibadah ( dengan tekun ) dan menjauhkan ( diri ) dari ( sikap ) mempermudah ( ibadah ), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah. Dan tareqat merupakan jalan atau cara yang ditempuh menuju keridaan Allah.
Hubungan tasawuf dengan tareqat yaitu, tasawuf adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan tariqat adalah cara atau jalan yang ditempuh seorang dalam usaha mendekatkan diri kepada Allah.
Adapun sejarah timbulnya tareqat, Harun Nasution menyatakan bahwa setelah al-Ghazali memenghalalkan tasawuf yang sebelumnya yang dikatakan sesat, tasawuf berkembang didunia islam, melalui tarikat. Tariqat adalah organisasi dari pengikut-pengikut sufyn besar, yang bertujuan untuk melestarikan ajaran-ajaran tasawuf gurunya, tariqat memakai suatu tempat pusat kegiatan yang disebut ribat, ini merupakan tempat murid-murid berkumpul melestarikan ajaran tasawufnya.

B.     Saran
Tujuan hidup tidaklah mencapai kebaikan. Untuk kebaikan melainkan merasa kebahagiaan. Tujuan kita bukan untuk mengetahui, melainkan berbuat, dan bukan untuk mengetahui apa budi itu. Melainkan supaya kita menjadi orang yang berbudi.
Manusia tidak selamanya tepat pertimbangannya, adil sikapnya, kadang – kadang manusia berbuat yang tidak masuk akal. Oleh sebab itu, manusia perlu sekali tahu mengenai diri. Manusia yang tahu mengetahui diri hidupsebagaimana mestinya tidak terombang – ambing oleh hawa nafsu.



DAFTAR PUSTAKA

Ø Makluf, Luis. 1986,  Al-Munjid Fi Al-Lughat Wa Al-A’lam. Bairut: Dar Al-Masyrik
Ø Solihin, M. 2008,  Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
Ø Schimel, Annemarie. 1986, Dimesti Mistik Dalam Islam. Jakarta: Pustaka Firdaus
Ø Mustofa, A. 2007, Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia
Ø Nasution, Harun. 1986, Perkembangan Tasawuf Di Dunia Islam. Jakarta: Depag RI
Ø Anwar, Rosihon. 2000, Ilmu Tasawuf. Bandung: CV Pustaka Setia
Ø Mustofa, A. 2010, Akhlak Tasawuf. Bandung: Pustaka Setia



[1] Luis Makluf, Al-Munjid fi Al-Lughat wa Al-A’lam ( Bairut: Dar Al-Masyriq, 1986 ), hal.465.
[2] M. Solihin, Ilmu Tasawuf (Bandung: CV Pustaka Setia, 2008 ), hal.203.
[3] Annemarie Schimel, Dimensi Mistik dalam islam ( jakarta: Pustaka Firdaus, 1986 ), hal.101.
[4] A. Mustofa, Akhlak Tasawuf ( Bandung: Pustaka Setia, 2007 ),hal.280.
[5] A. Mustofa, Op.Cit., hal.280-281.
[6] Proyek Pembinaan Perguruan Tinggi, Pengantar Ilmu Tasawuf ( Sumatra Utara, 1981/1982 ),hal.273.
[7] M. Solihin, Op.Cit., hal.207.
[8] Harun Nasution, Perkembangan Tasawuf di Dunia Islam ( Jakarta: Depag RI, 1986 ), hal.24.
[9] Rosihon Anwar, Ilmu Tasawuf ( Bandung: CV. Pustaka Setia, 2000 ), hal.167.
[10] Rosihon Anwar, Op.Cit., hal.168.
[11] M. Solihin, Op.Cit.,hal.211-216.
[12] M. Solihin, Op.Cit.,hal.217-218.
[13] H. A. Mustofa, Akhlak Tasawuf ( Bandung: CV Pustaka Setia, 2010 ), hal.285-286.
[14] H. A. Mustofa, Op.Cit.,hal.286-287.
[15] H. A. Mustofa, Op.Cit.,hal.287-288.

1 komentar:

  1. assalamualaikum
    terima kasih mas kami sangat terbantu sekali dengan contoh makalah anda mas

    BalasHapus